Rupiah Lebih Stabil: Airlangga Bandingkan Dua Dekade

Budi Santoso

Rupiah Lebih Stabil: Airlangga Bandingkan Dua Dekade

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti perbandingan pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) selama dua dekade terakhir, menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini jauh lebih terkendali dan pelemahannya lebih rendah. Dalam sebuah acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026 di Jakarta, Airlangga memaparkan data historis yang menggarisbawahi perbedaan signifikan tersebut.

Menurut Airlangga, pada periode 2004-2014, Rupiah mengalami depresiasi yang cukup dalam, mencapai sekitar 40% dalam kurun waktu sepuluh tahun. Periode tersebut juga diwarnai oleh lonjakan inflasi domestik yang sempat mencapai 17% pada tahun 2005. Kondisi ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan tajam harga minyak dunia yang menembus US$ 140 per barel, memberikan tekanan ganda pada stabilitas ekonomi nasional. "Saya hanya menyampaikan bahwa rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40% dalam 10 tahun. Dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005 di 17%, karena harga minyak naik ke US$ 140 per barrel," ujar Airlangga, menekankan volatilitas yang terjadi pada dekade pertama.

Kontras dengan dekade sebelumnya, Airlangga membandingkannya dengan periode 2014-2024. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, depresiasi Rupiah tercatat lebih moderat, hanya sebesar 30,6%. Lebih menggembirakan lagi, tingkat inflasi selama periode tersebut jauh lebih rendah, berkisar di angka 3%. Perbedaan ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas dalam pengelolaan ekonomi makro Indonesia selama dua dekade terakhir. "Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6%, dan inflasinya 3%. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir," jelas Airlangga.

Baca Juga :  Saham Indonesia Kompak Terdepak dari Indeks MSCI Global

Lebih lanjut, Airlangga membandingkan kondisi terkini dengan data historis tersebut. "Dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4% dan depresiasi Rupiah 5%," ungkapnya. Angka inflasi sebesar 2,4% dan depresiasi Rupiah sekitar 5% sejak awal tahun menunjukkan ketahanan mata uang nasional yang signifikan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Menurut pandangan Airlangga, penguatan fundamental ekonomi Indonesia menjadi kunci utama stabilitas ini. Ia menegaskan bahwa sektor perbankan dan korporasi nasional masih berada dalam kondisi yang sehat, mampu menahan tekanan eksternal. Kinerja positif ini menjadi bukti bahwa berbagai kebijakan ekonomi yang telah dan sedang dijalankan telah memberikan dampak yang positif.

Sebagai konteks tambahan, nilai tukar Dolar AS memang mengalami penguatan terhadap Rupiah pada pagi hari di mana berita ini diterbitkan. Mata uang Paman Sam dilaporkan berada di level Rp 17.700, dengan data dari Bloomberg menunjukkan nilai tukar Dolar AS pada level Rp 17.717, mengalami kenaikan sekitar 50 poin atau 0,28%. Meskipun ada fluktuasi harian, perbandingan jangka panjang yang disampaikan oleh Airlangga Hartarto memberikan gambaran yang lebih luas mengenai tren positif dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Also Read

Tinggalkan komentar