
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti praktik transfer pricing yang merajalela dalam ekspor sumber daya alam (SDA), yang menyebabkan kebocoran penerimaan negara dalam jumlah besar. Untuk mengatasi hal ini, Luhut mendukung penuh pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang fokus pada ekspor, yaitu Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurutnya, praktik akal-akalan dalam ekspor SDA selama ini sangat merugikan negara.
Luhut mengusulkan agar operasional DSI nantinya terintegrasi dengan platform pengawasan Sistem Informasi Pengelolaan Mineral dan Batu Bara (Simbara). Simbara adalah platform digital terintegrasi yang dikembangkan untuk mengelola dan memantau sumber daya alam hasil tambang seperti batu bara, nikel, timah, emas, dan tembaga. Sistem ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan, yang bekerja sama melalui Direktorat Jenderal Anggaran (Lembaga National Single Window) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
"Sudah saya usulkan tadi malam juga kepada Rosan untuk disampaikan kepada Presiden, kita gunakan juga Simbara yang fleksibilitasnya sudah ada dengan badan ini memakai sistem itu, dan itu link langsung ke tempatnya Pak Sua, yaitu National Single Window. Jadi sudah bisa bangun sistem itu, dan orang tidak akan bisa lari dari situ," ujar Luhut. Ia menjelaskan bahwa integrasi dengan Simbara akan meningkatkan efisiensi tata kelola ekspor DSI. Platform Simbara dilengkapi dengan automatic blocking system (ABS) yang akan mencegah perusahaan yang melanggar kewajiban ekspor.
Contohnya, di sektor batu bara, perusahaan harus memenuhi tujuh kriteria sejak lisensi dikeluarkan, termasuk pelaporan cadangan, kalori, lokasi tambang, dan rencana ekspor. Semua data ini terintegrasi dalam sistem. "Jadi kau bayar pajak, kau bayar royalti, begitu kau mau ekspor, itu oleh kantornya tadi, Single Window ini akan cek, dan itu semua terintegrasi dengan cepat. Kalau kau belum bayar royalti, ya sudah, tak, nggak bisa. Kamu nggak akan bisa diancam oleh siapa saja. Jadi mau tentara, mau polisi, mau siapa saja, tidak bisa mempengaruhi sistem ini. Dia harus mulai dari nol. Nah, itu yang harus kita awasi ramai-ramai," tegas Luhut.
Meskipun Luhut belum dapat memperkirakan besaran devisa hasil ekspor SDA strategis yang bisa diselamatkan melalui DSI yang terintegrasi dengan Simbara, ia optimistis hasilnya akan signifikan. Simbara sendiri telah terbukti berhasil mengurangi kebocoran penerimaan negara hingga 40% dari sektor batu bara. "Saya tidak tahu berapa angkanya, nominalnya, tapi yang saya sampaikan, yang saya bisa katakan karena saya sudah mengerjakan ini waktu Menko Marves, Simbara untuk batu bara kan sudah kita kerjakan, itu saya kira menghemat sampai 40%. Tapi sekarang dengan pembentukan BUMN ekspor oleh Presiden yang lebih jelas seperti ini, saya kira angkanya akan cukup besar itu," pungkas Luhut.











