Prabowo Bertemu Mantan Bos BI, Bahas Ekonomi & Rupiah

Budi Santoso

Prabowo Bertemu Mantan Bos BI, Bahas Ekonomi & Rupiah

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2003-2008, Burhanuddin Abdullah, membeberkan hasil pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan. Pertemuan tersebut mengundang sejumlah mantan petinggi BI dan menteri perekonomian terdahulu untuk mendiskusikan kondisi ekonomi Indonesia terkini, dengan fokus utama pada nilai tukar Rupiah dan angka inflasi. Burhanuddin Abdullah menyatakan bahwa diskusi tidak secara spesifik membahas pelemahan Rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 17.600 per Dolar AS, melainkan lebih kepada penanganan dampak gejolak ekonomi global dari sisi fiskal dan moneter.

Burhanuddin Abdullah mengungkapkan bahwa situasi ekonomi saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi tahun 2005, khususnya terkait dampak kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan pengalaman pemerintah saat menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tahun 2005 yang mencapai 126%. Namun, ia menekankan bahwa sumber tekanan ekonomi saat ini berbeda, yaitu lebih bersifat eksternal, sementara pada tahun 2005 lebih dominan berasal dari dalam negeri, meskipun dipicu oleh faktor eksternal. Diskusi dengan Prabowo lebih diarahkan pada bagaimana kebijakan fiskal dan moneter, serta kerja tim yang solid, dapat dioptimalkan untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapi.

Meskipun demikian, Burhanuddin Abdullah menilai bahwa pelemahan Rupiah saat ini masih tergolong lebih baik dibandingkan dengan krisis ekonomi di masa lalu. Ia membandingkan depresiasi Rupiah saat ini yang hanya berkisar 5%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode krisis yang sempat mencapai 42%. Ia berpendapat bahwa masyarakat cenderung membandingkan dengan nilai tukar Rupiah di masa lalu yang sangat jauh berbeda, padahal dalam satu tahun terakhir (2025), depresiasi Rupiah hanya sekitar 3,4%, dan saat ini mencapai 5%. Angka ini dinilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan 42% saat krisis atau 21% pada periode lain. Ia menyarankan perlunya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat agar pemahaman mengenai kondisi ekonomi terkini lebih akurat dan tidak terjebak pada perbandingan masa lalu yang ekstrem.

Baca Juga :  Dolar AS Dekati Rp17.700, Rupiah Melemah Pagi Ini

Menanggapi pertanyaan mengenai kenaikan BI Rate, Burhanuddin Abdullah menyatakan bahwa tidak ada pembahasan spesifik mengenai hal tersebut dalam pertemuannya dengan Prabowo. Ia mengingatkan bahwa BI telah memutuskan menaikkan BI Rate menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Mei 2026. Ia kemudian menceritakan kembali kebijakan BI pada tahun 2005, saat dirinya menjabat sebagai gubernur, di mana BI menaikkan suku bunga acuan secara agresif untuk meredam inflasi yang melonjak akibat kenaikan harga BBM. Suku bunga acuan kala itu naik secara bertahap, masing-masing 75 basis poin dan 100 basis poin, hingga mencapai 12,5% ketika inflasi melonjak hingga 17%. Ia menambahkan bahwa setelah kebijakan tersebut direspons positif oleh pasar, terjadi stabilisasi Rupiah dan inflasi kembali ke level 6% pada tahun 2006, sama seperti tahun 2004, setelah mengalami lonjakan tajam pada tahun 2005.

Also Read

Tinggalkan komentar