
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklarifikasi strategi pemerintah Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menegaskan bahwa fokus tidak hanya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga pada revitalisasi sektor swasta. Purbaya menjelaskan dalam Jogja Financial Festival 2026 bahwa banyak pihak belum sepenuhnya memahami arah kebijakan ekonomi pemerintah.
"Yang banyak orang tidak mengerti adalah apa langkah pemerintah? Apa langkah Pak Prabowo? Apa hanya sibuk dengan MBG saja? Tidak. Pak Prabowo juga mengaktifkan sektor swasta," ujar Purbaya, menekankan bahwa ada upaya komprehensif untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian nasional.
Purbaya merinci bahwa saat pertama kali menjabat, ia mengidentifikasi sejumlah kendala dalam perekonomian. Atas instruksi Presiden Prabowo, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun ke dalam sistem perbankan. Tujuannya adalah untuk mendorong perbankan agar menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat dan sektor swasta.
"Saya diskusi dengan Bank Sentral juga, coba batasi uang yang diserap oleh bank sentral. Jadi, uangnya di perbankan dan dia terpaksa menyalurkan ke masyarakat. Kenapa? Kalau tidak, dia harus membayar bunga ke saya sekitar 3,8%. Rugi dia," papar Purbaya, menjelaskan mekanisme insentif yang dibuat untuk mendorong penyaluran kredit.
Strategi ini terbukti efektif dalam menggerakkan sektor swasta. Dengan adanya likuiditas yang lebih besar dan dorongan untuk menyalurkan kredit, Purbaya menyatakan bahwa sektor swasta mengalami pertumbuhan. "Jadi dia harus menyalurkan kredit. Akibatnya, private sector juga tumbuh," jelasnya dengan mantap.
Lebih lanjut, Purbaya juga menyoroti dampak kebijakan ini terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia melaporkan bahwa defisit APBN per akhir Maret 2026 tercatat sebesar 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, ia menekankan bahwa angka ini merupakan hasil dari percepatan belanja yang dilakukan pada awal tahun.
"Tapi itu (APBN per Maret) karena kita belanjanya kita tarik ke depan. Triwulan kedua, sudah mulai membaik bulan April saja, data APBN kita membaik," imbuh Purbaya, memberikan gambaran positif mengenai tren perbaikan fiskal. Data APBN pada bulan April menunjukkan perbaikan, dengan defisit yang menurun menjadi 0,64%. Hal ini menandakan bahwa kebijakan yang diambil mulai memberikan hasil yang diharapkan, baik dalam penguatan sektor swasta maupun dalam menjaga kesehatan fiskal negara.











