Rupiah Melemah, Fondasi Ekonomi Nasional Perlu Dikuatkan

Budi Santoso

Rupiah Melemah, Fondasi Ekonomi Nasional Perlu Dikuatkan

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS menjadi pengingat pentingnya penguatan fondasi ekonomi nasional. Stabilitas kurs tidak hanya dipengaruhi faktor moneter, tetapi juga berkaitan erat dengan persepsi pasar terhadap tata kelola ekonomi secara keseluruhan.

Menurut Ekonom dan Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof. Didin S. Damanhuri, pergerakan rupiah ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor, baik domestik maupun global. Dinamika ini perlu dilihat sebagai momentum evaluasi bersama untuk memperkuat kepercayaan pasar.

"Ini adalah satu rangkaian permasalahan, yang berkaitan dengan struktur fundamental ekonomi negara, baik moneter maupun fiskal, dan kepercayaan dari lembaga rating maupun negara lainnya kepada Indonesia. Ini terkait, bagaimana pemerintah Indonesia bisa menunjukkan tata kelola negara," ujar Prof. Didin pada Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah bukanlah semata-mata dipengaruhi oleh kebijakan moneter. Terdapat banyak faktor yang saling berkaitan, termasuk kondisi ekonomi global dan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Selain faktor domestik, Prof. Didin juga menyoroti peran ketidakpastian geopolitik global yang turut memberi tekanan terhadap stabilitas ekonomi. Fenomena ini terutama terlihat melalui kenaikan harga energi yang memicu inflasi impor. "Akibat konflik, terjadi krisis energi, yang akhirnya menyebabkan imported inflation. Apalagi Indonesia tidak hanya mengimpor energi, tapi juga beragam komoditas pangan lainnya," jelasnya.

Baca Juga :  Pertamina Jembatani Kampus dan Industri Energi Masa Depan

Kondisi ini menggarisbawahi perlunya perhatian serius terhadap berbagai aspek ekonomi, mulai dari kebijakan moneter dan fiskal yang prudent, hingga peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik. Persepsi positif dari pasar dan lembaga internasional sangat krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan fundamental ekonomi yang berkelanjutan akan menjadi kunci dalam menghadapi gejolak ekonomi global dan domestik, serta membangun kepercayaan investor jangka panjang.

Pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan daya saing ekonomi, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mendorong investasi domestik. Diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi dan penguatan sektor-sektor unggulan juga dapat menjadi strategi penting. Selain itu, komunikasi yang efektif dengan pasar mengenai kebijakan ekonomi yang diambil dapat membantu mengelola ekspektasi dan mengurangi volatilitas.

Analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, baik yang bersifat struktural maupun siklikal, perlu terus dilakukan. Upaya sinergis antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di masa mendatang. Penguatan kepercayaan pasar melalui transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan ekonomi menjadi landasan utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.

Also Read

Tinggalkan komentar