Rupiah Lemah, Pengunjung Mal Jakarta Turun Drastis di Hari Kerja

Budi Santoso

Rupiah Lemah, Pengunjung Mal Jakarta Turun Drastis di Hari Kerja

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus bertahan di atas Rp 17.700 mulai terasa signifikan di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Penurunan jumlah pengunjung menjadi indikasi utama melemahnya daya beli masyarakat. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas secara drastis. Ia menyoroti situasi nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 sebagai penyebab utama kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

"Semua juga sudah mengetahui bahwa dolar AS per hari ini sudah Rp 17.000, nyangkut, sudah hampir Rp 18.000 ya. Aduh, mudah-mudahan tidak lewat dari angka Rp 18.000 itu. Nah memang boleh dikatakan terjadi kenaikan-kenaikan harga di masyarakat," ujar Ellen dalam konferensi pers Festival Jakarta Great Sale 2026, Rabu (20/5/2026).

Ellen memberikan contoh konkret mengenai kenaikan harga yang dialami konsumen. Buah naga, yang sebelumnya dibeli dengan harga Rp 25.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 40.000. Begitu pula dengan harga gas untuk rumah tangga, yang naik dari Rp 210.000 menjadi Rp 250.000. Kenaikan persentase ini sangat memberatkan, dan ini baru sebagian kecil dari contoh yang ada. Kenaikan harga tidak hanya pada buah-buahan, tetapi juga merambah ke sayuran dan berbagai komoditas lainnya.

Situasi ini secara langsung berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat, termasuk bagi para pekerja dengan pendapatan tetap. Dengan gaji yang tidak mengalami penyesuaian seiring dengan lonjakan harga barang, masyarakat terpaksa mengurangi pengeluaran, terutama untuk kebutuhan sekunder dan tersier. Hal ini berujung pada penurunan trafik pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta pada hari kerja (weekdays) yang dilaporkan mengalami penurunan sekitar 15-20%.

Baca Juga :  Pertamina Dorong Perempuan Maju di Industri Energi

Namun, Ellen mencatat adanya tren yang menarik. Berbeda dengan hari kerja, jumlah pengunjung pada akhir pekan (weekend) justru terpantau tinggi, bahkan cenderung meningkat. Fenomena ini, meskipun terkesan aneh, sebenarnya dapat dipahami. Pada hari kerja, masyarakat yang terdampak pelemahan daya beli lebih memilih untuk menahan diri berbelanja. Sementara itu, di akhir pekan, ada kemungkinan masyarakat melakukan pembelian yang tertunda atau memanfaatkan waktu luang untuk beraktivitas di mal.

"Memang terjadi penurunan trafik di pusat belanja, sebagian besar sekitar 15-20% pada weekdays. Tapi untuk weekend justru bisa tinggi sekali, lebih tinggi dari biasanya. Terjadi sedikit keanehan, tapi sebenarnya juga tidak aneh," terangnya.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi pengelola pusat perbelanjaan untuk tetap menjaga minat pengunjung dan mendorong transaksi. Strategi promosi dan penawaran menarik mungkin perlu digencarkan, terutama untuk menarik pengunjung di hari-hari kerja. Pengelola juga perlu mengamati lebih lanjut pola perilaku konsumen di akhir pekan untuk memaksimalkan potensi yang ada. Pihak APPBI sendiri terus berupaya mencari solusi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memitigasi dampak negatif pelemahan rupiah terhadap sektor ritel. (igo/fdl)

Also Read

Tinggalkan komentar