
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan penyerapan telur dari peternak. Langkah ini diambil untuk menahan anjloknya harga telur di tingkat peternak, yang dilaporkan belum terserap optimal di beberapa daerah, terutama Jawa Timur. Pemerintah meyakini peningkatan konsumsi telur melalui MBG akan menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak unggas.
Mentan Amran telah berkoordinasi langsung dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, untuk mendorong peningkatan konsumsi telur dalam program MBG. "Makanya aku minta Pak Dadan, tolong konsumsi itulah fungsinya MBG. Pak Dadan saya telepon, Prof Dadan tolong konsumsi telur dinaikkan dari satu hari per minggu katakanlah jadi dua hari," ujar Mentan di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Bahkan, BGN telah mengusulkan agar konsumsi telur dalam MBG ditingkatkan menjadi tiga hari dalam sepekan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendongkrak permintaan telur di tengah tekanan harga yang dialami peternak rakyat.
Program MBG didorong untuk menjadi offtaker utama bagi hasil produksi petani dan peternak. Pemerintah berupaya memangkas rantai distribusi pangan agar hasil produksi masyarakat dapat langsung terserap pasar. Mentan Amran menegaskan, "Tiga hari, sudah minta tiga hari." Ia juga meminta jajarannya untuk segera berkoordinasi dengan pelaksana MBG di daerah guna memastikan penyerapan telur peternak berjalan lebih optimal. Secara khusus, Mentan menyoroti wilayah Nganjuk dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur yang masih menghadapi persoalan penyerapan hasil produksi telur.
Kritik dari peternak terkait belum maksimalnya penyerapan telur dijadikan bahan evaluasi oleh pemerintah. Mentan Amran menyatakan keterbukaannya terhadap masukan konstruktif demi memperkuat ketahanan pangan nasional. "Tolong Pak deputi sampaikan di Nganjuk, pokoknya bukan Nganjuk aja, Jawa Timur," tutur Amran.
Pemerintah sedang membangun ekosistem pangan yang terintegrasi melalui koperasi desa dan MBG. Koperasi diharapkan dapat memotong rantai pasok dari delapan jalur distribusi menjadi hanya tiga jalur, sehingga harga di tingkat petani dan peternak menjadi lebih menguntungkan. Dalam skema ini, MBG akan berperan sebagai pasar penampung hasil produksi petani dan peternak nasional. Tujuannya adalah untuk menopang produksi pangan sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.
"Koperasi men- supply ke MBG. MBG ini jangan dilihat berdiri sendiri, ini adalah offtaker 160 juta petani," jelas Mentan, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional. Penguatan penyerapan hasil peternak melalui MBG dinilai sebagai langkah krusial dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Selain itu, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi peternak rakyat dari gejolak harga dan rantai distribusi yang terlalu panjang, sehingga kesejahteraan mereka dapat terus terjaga.











