IHSG Anjlok Tajam, Saham Konglomerat Tertekan ARB

Budi Santoso

IHSG Anjlok Tajam, Saham Konglomerat Tertekan ARB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada penutupan perdagangan Selasa, 19 Mei. Setelah sempat menguat tipis di awal sesi, IHSG berbalik arah dan ditutup melemah signifikan sebesar 3,46% ke level 6.370,67. Posisi penutupan ini jauh tertinggal dari level pembukaan di 6.635,12, menandakan sentimen negatif yang dominan di pasar saham domestik. Volume perdagangan tercatat cukup tinggi, mencapai 45,97 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 25,59 triliun, yang diperdagangkan sebanyak 2.804.524 kali.

Kondisi pasar yang memburuk tercermin dari perbandingan saham yang melemah dan menguat. Sebanyak 612 saham tercatat mengalami pelemahan, sementara hanya 112 saham yang berhasil menguat, dan 94 saham lainnya bergerak stagnan. Jika dilihat secara akumulatif sepanjang tahun 2020, IHSG tercatat telah melemah sebesar 26,32%, menunjukkan tren penurunan yang cukup dalam.

Perdagangan hari ini juga diwarnai oleh anjloknya sejumlah saham emiten yang terafiliasi dengan konglomerat besar, bahkan ada yang menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB). Salah satu yang paling terdampak adalah saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), milik konglomerat Prajogo Pangestu, yang melemah tajam sebesar 14,75% dan ditutup pada harga Rp 3.120 per saham. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga mengalami pelemahan signifikan sebesar 13,33% ke level Rp 650 per saham. PT Petrosea Tbk (PTRO), yang juga merupakan bagian dari portofolio bisnis yang terkait, turut tertekan dengan pelemahan 10,93% ke harga Rp 4.320 per saham.

Baca Juga :  Indonesia Siapkan Pusat Keuangan Global di Bali

Tidak hanya itu, saham-saham dari Grup Sinar Mas juga tidak luput dari koreksi. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami pelemahan sebesar 14,77% dan ditutup pada harga Rp 750 per saham. Sektor perkebunan sawit pun turut merasakan dampak negatif, dengan saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) milik Theodore Permadi (TP) Rachmat yang anjlok hingga 14,97% ke harga Rp 1.590 per saham. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar ini memberikan tekanan yang kuat pada pergerakan IHSG secara keseluruhan.

Anjloknya saham-saham emiten besar ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran terhadap prospek ekonomi di tengah ketidakpastian global, penurunan harga komoditas, atau sentimen negatif spesifik pada perusahaan-perusahaan tersebut. Investor menunjukkan adanya aksi jual yang agresif, terutama pada saham-saham yang sebelumnya dianggap memiliki fundamental kuat. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran sentimen pasar yang cukup drastis dalam satu hari perdagangan. Para pelaku pasar akan mencermati perkembangan selanjutnya untuk melihat apakah tren pelemahan ini akan berlanjut atau ada potensi pembalikan arah dalam beberapa hari perdagangan mendatang. Perhatian juga tertuju pada langkah-langkah kebijakan yang mungkin diambil oleh otoritas pasar modal untuk menstabilkan kondisi.

Also Read

Tinggalkan komentar