
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membebani perekonomian global dengan kerugian mencapai 25 miliar dolar AS, atau sekitar Rp400 triliun, dan angka ini diprediksi akan terus meningkat. Analisis Reuters terhadap pernyataan ratusan perusahaan pasca-dimulainya perang mengungkap bahwa 279 perusahaan mengidentifikasi ketegangan ini sebagai pemicu langkah-langkah defensif. Tindakan yang diambil bervariasi, mulai dari menaikkan harga dan memangkas produksi, hingga penghentian pembayaran dividen, pembekuan pembelian kembali saham, perumahan karyawan, dan penambahan biaya bahan bakar kepada pelanggan.
Situasi memburuk setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan kepada Iran akhir pekan lalu, diperparah dengan serangan drone ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Di UEA, sebuah drone dilaporkan merusak generator di pembangkit nuklir, sementara Arab Saudi mengumumkan keberhasilan mencegat tiga drone yang berasal dari wilayah udara Irak.
Pasar energi merespons tajam terhadap eskalasi ini. Harga minyak Brent dilaporkan menembus 111 dolar AS per barel, dan West Texas Intermediate diperdagangkan di atas 107 dolar AS per barel. Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan minyak mentah semakin menguat, mengingat lebih dari 10 juta barel produksi harian dari Timur Tengah terhenti dan cadangan yang menipis membutuhkan penggantian segera.
Analis komoditas ING mencatat peningkatan aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz. Meskipun Iran melaporkan 30 kapal diizinkan melintas dalam dua hari pekan lalu, ING memperingatkan bahwa situasi ini dapat berubah dengan cepat. Di ranah diplomatik, pertemuan puncak antara Trump dan Xi Jinping di Beijing tidak membuahkan hasil yang signifikan dalam meredakan krisis. Pertemuan tersebut justru menyoroti keterbatasan kemampuan kedua negara adidaya dalam menyelesaikan perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Meskipun Trump mengklaim telah menyelesaikan "banyak masalah" dan Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz "harus tetap terbuka", tidak ada hasil konkret yang dipaparkan, baik itu kerangka kerja, peta jalan, maupun inisiatif bersama. Tidak ada kesepakatan keamanan maritim, terobosan diplomatik dengan Teheran, maupun perjanjian stabilisasi energi yang tercapai. Klaim Trump bahkan dibantah oleh pejabat Tiongkok yang menolak atau mengabaikan tawaran bantuan dari Xi. Kesenjangan ini mengungkap ketidakselarasan strategis antara kedua negara: Amerika Serikat menginginkan Tiongkok menekan Iran lebih keras, sementara Tiongkok lebih mengutamakan stabilitas tanpa mengorbankan hubungan bilateralnya dengan Iran, yang berujung pada kebuntuan total.
Pasar minyak kembali dilanda kegelisahan seiring memudarnya optimisme dari pertemuan di Beijing. Harga minyak mentah kembali merangkak naik, dan pasar kapal tanker tetap bergejolak. Selat Hormuz kini tidak hanya menghadapi gangguan sementara, melainkan ketidakstabilan yang bersifat permanen.
Inisiatif pengawalan angkatan laut AS yang dikenal sebagai "Operasi Project Freedom" dinilai gagal. Para pemilik kapal dan perusahaan asuransi tidak menunjukkan kepercayaan pada jaminan keamanan Amerika. Kenyataan pahitnya adalah, meskipun AS mampu mengerahkan kekuatan militer di Teluk, mereka tidak berhasil memulihkan kepercayaan pasar komersial.
Iran bahkan membentuk Otoritas Selat Teluk Persia, sebuah badan baru yang secara terbuka mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Kapal-kapal yang terafiliasi dengan Tiongkok dilaporkan diizinkan melintas, sementara negara lain tidak. Jika tren ini berlanjut, arus energi dan asuransi maritim global tidak lagi ditentukan oleh mekanisme pasar bebas, melainkan oleh hubungan politik.
Pertemuan di Beijing juga menyentuh isu Taiwan, di mana Xi Jinping secara terbuka memperingatkan bahwa penanganan yang keliru dapat memicu "bentrokan bahkan konflik". Dunia kini tidak hanya dihadapkan pada satu krisis, melainkan ancaman yang menyebar secara bersamaan di Selat Hormuz, Laut Merah, dan Asia Timur. Eropa pun dinilai belum siap menghadapi situasi ini, terjebak antara ketergantungan pada AS dan kebutuhan energinya dari Teluk, tanpa memiliki strategi maritim yang jelas.











