IHSG Anjlok, Bursa Asia Koreksi Tajam Akibat Pengumuman MSCI & FTSE

Budi Santoso

IHSG Anjlok, Bursa Asia Koreksi Tajam Akibat Pengumuman MSCI & FTSE

Bursa saham Asia secara umum mengalami koreksi pada perdagangan Senin (18/5), namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia memimpin pelemahan terdalam di kawasan regional. Berdasarkan data RTI Business, IHSG terpantau merosot tajam hingga 3,72% ke level 6.473,13. Pagi tadi, indeks saham bahkan sempat menyentuh level terendahnya di 6.398,78, menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari 4%.

Kinerja IHSG hari ini menempatkannya sebagai bursa saham terlemah di Asia. Sebagai perbandingan, Straits Times Index (STI) Singapura hanya terkoreksi tipis 0,47% ke 4.965,81. Indeks Nikkei 225 Jepang juga mengalami pelemahan sebesar 0,85% ke 60.871,10. Sementara itu, bursa saham Tiongkok, seperti Hang Seng Index (HSI), melemah 1,35% ke 25.612,63, dan Shanghai Composite Index (SSEC) terkoreksi lebih moderat 0,22% ke 4.126,35.

Pelemahan signifikan IHSG ini beriringan dengan anjloknya harga saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) di Indonesia. Penurunan tajam pada saham-saham unggulan ini diduga kuat dipicu oleh pengumuman terbaru dari MSCI dan FTSE Russell, dua penyedia indeks acuan global yang sangat berpengaruh di pasar modal internasional. Pengumuman ini kemungkinan besar berkaitan dengan perubahan komposisi indeks atau klasifikasi saham yang berdampak pada aliran dana investor asing.

Beberapa saham unggulan yang mengalami koreksi parah antara lain adalah saham milik pengusaha Prajogo Pangestu, yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham TPIA bahkan menyentuh batas auto reject bawah (ARB) dengan pelemahan mencapai 14,88%, berakhir di harga Rp 3.660 per saham. Saham lain yang juga terperosok dalam adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari konglomerasi Grup Sinarmas. DSSA juga mengalami ARB dengan penurunan 14,98% ke harga Rp 880 per saham.

Baca Juga :  Viro Hadirkan ViroFab, Revolusi Konstruksi Modular Mewah di Indonesia

Anjloknya saham-saham besar ini tentu memberikan sentimen negatif yang kuat terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Investor asing yang memegang saham-saham tersebut kemungkinan besar melakukan aksi jual untuk menghindari potensi kerugian lebih lanjut, yang kemudian memicu penurunan harga lebih dalam. Pengumuman MSCI dan FTSE Russell bisa jadi memicu penyesuaian portofolio oleh reksa dana indeks global, yang berdampak langsung pada saham-saham yang masuk atau keluar dari daftar indeks mereka. Analis pasar memperkirakan investor akan terus memantau perkembangan lebih lanjut dari pengumuman tersebut dan dampaknya terhadap kinerja emiten-emiten besar Indonesia di hari-hari mendatang. Kondisi ini juga dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi di pasar saham domestik.

Also Read

Tinggalkan komentar