
Presiden terpilih Prabowo Subianto telah mengambil keputusan politik krusial untuk menurunkan suku bunga kredit ultra mikro, yang sebelumnya mencapai 24%, menjadi di bawah 9%. Keputusan ini diambil setelah pertemuan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani. Prabowo menyuarakan keprihatinannya terhadap disparitas suku bunga yang dinilainya tidak adil, di mana pengusaha besar dapat memperoleh pinjaman dengan bunga 9-10%, sementara pelaku usaha ultra mikro, yang notabene adalah masyarakat kecil, terbebani bunga dua kali lipat.
"Padahal pengusaha besar kalau ke bank dapat 9-10% aja, orang kaya dikasih 9%, orang miskin dikasih 24%, ini negara Pancasila apa ya? Saya nggak paham gitu," ujar Prabowo, menyoroti ketidakadilan tersebut. Ia menegaskan bahwa penurunan bunga kredit ultra mikro, yang mencakup pinjaman di bawah Rp 10 juta, merupakan keputusan politik yang telah diambilnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penurunan suku bunga ini akan dilakukan dengan menggeser sebagian alokasi dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). "Subsidi, cuma digeser sebagian dari KUR ke sana. Mungkin juga kita tambah nanti tapi basically langkah pertama adalah memastikan yang super mikro tadi bisa dapat bunga yang rendah, di bawah 9% kata presiden," ungkap Purbaya.
Lebih lanjut, Purbaya menambahkan bahwa Danantara akan berkoordinasi dengan PNM (Permodalan Nasional Madani) untuk merealisasikan penurunan suku bunga ini, dengan target mencapai sekitar 8%. "Alokasinya? Nanti kita serahkan ke Danantara. Mereka sedang hitung nanti. Ini rencana presiden yang baru dan rencana Danantara di bawah 9%. Kayaknya ke 8% tapi mereka sedang hitung lagi, tapi ini Anda tanya ke Danantara lebih detail," pungkasnya, menyarankan agar informasi lebih rinci dapat diperoleh langsung dari Danantara. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban finansial masyarakat kecil dan UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dari akar rumput.











