
Bank Indonesia (BI) optimis nilai tukar rupiah akan segera stabil, bahkan cenderung menguat, seiring dengan intervensi yang terus dilakukan. Depresiasi rupiah yang menembus Rp 17.500 per dolar AS dinilai bersifat jangka pendek. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah utamanya dipicu oleh faktor global, seperti konflik Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Sejak akhir Februari 2026, pergerakan nilai tukar global sangat dipengaruhi dinamika internasional, termasuk lonjakan harga minyak lebih dari 40 persen akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, tren kenaikan suku bunga di AS, yang terlihat dari peningkatan suku bunga Treasury 10 tahun mendekati 4,5 persen, juga menekan mata uang negara berkembang, tidak hanya rupiah tetapi juga peso Filipina, baht Thailand, rupee India, dan won Korea.
Di sisi domestik, pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh tingginya permintaan dolar AS untuk keperluan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musim haji. BI menyadari kondisi ini dan terus memperkuat tujuh langkah strategis guna menstabilkan dan menguatkan rupiah. BI tetap yakin fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61 persen dan inflasi stabil di 3,48 persen, menjadi landasan utama keyakinan tersebut.
BI secara aktif melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Operasi pasar dilakukan di berbagai pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York, didukung oleh cadangan devisa yang memadai. Untuk menarik dana asing masuk dan mengimbangi potensi keluar modal dari Surat Berharga Negara (SBN), obligasi, dan saham, BI menerbitkan instrumen SRBI. Langkah ini krusial mengingat adanya outflow dari SBN dan saham pada periode tertentu.
BI juga terus membeli SBN dari pasar sekunder, sebuah strategi yang telah dijalankan sejak awal tahun dengan total pembelian mencapai Rp 123,1 triliun secara year-to-date. Koordinasi erat dengan otoritas fiskal dan moneter memastikan likuiditas perbankan dan pasar tetap memadai, terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang konsisten double digit. Kebijakan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik juga diterapkan, dengan penurunan batas maksimal dari 100.000 menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan, dan rencana penurunan lebih lanjut menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan untuk pembelian di atas nominal tersebut yang memerlukan underlying.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, bersama jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), telah menghadap Presiden RI Prabowo Subianto untuk membahas data ekonomi dan strategi stabilisasi rupiah. Presiden memberikan arahan untuk menjalankan tujuh langkah yang telah disiapkan BI. Tujuh langkah tersebut meliputi intervensi pasar spot, DNDF, dan NDF di pasar offshore; penggunaan SRBI untuk menarik capital inflow; pembelian SBN di pasar sekunder; penjagaan likuiditas perbankan; serta pembatasan pembelian dolar domestik. BI meyakini bahwa dengan sinergi bersama kementerian/lembaga, langkah-langkah strategis ini akan berhasil membuat rupiah stabil dan cenderung menguat, karena fundamental ekonomi Indonesia sangat baik dan tidak ada alasan untuk ketidakstabilan nilai tukar.











