
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kesiapannya untuk membantu Bank Indonesia (BI) dalam upaya mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Keputusan ini diambil menyusul pelemahan rupiah yang signifikan hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Purbaya menyatakan bahwa bantuan tersebut akan mulai diimplementasikan hari ini, setelah sebelumnya melakukan rapat dadakan dengan jajarannya di lobi Kementerian Keuangan.
Strategi utama yang akan digunakan oleh Kementerian Keuangan adalah melalui intervensi di pasar surat berharga atau bond market. Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan memanfaatkan skema Bond Stabilization Fund (BSF), meskipun belum seluruh dana diaktifkan. Intervensi ini bertujuan untuk menstabilkan yield obligasi agar tidak mengalami kenaikan yang berlebihan. Kenaikan yield yang tinggi dapat menyebabkan kerugian modal (capital loss) bagi investor asing yang memegang obligasi di Indonesia, yang berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar domestik. Dengan mengendalikan yield, pemerintah berharap dapat mencegah atau bahkan menarik kembali investor asing, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada penguatan nilai tukar rupiah.
Purbaya mengklaim bahwa kas pemerintah saat ini dalam kondisi yang sangat memadai untuk mendukung upaya intervensi yang akan dilakukan BI. "Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi," ujar Purbaya. Ia menekankan bahwa intervensi ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pasar obligasi, dengan harapan dampaknya akan merambat ke pasar nilai tukar.
Rapat dadakan yang digelar di Kementerian Keuangan dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, dan Plh Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto. Meskipun Purbaya enggan merinci strategi spesifik yang akan dijalankan, ia mengindikasikan bahwa langkah-langkah tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas pasar obligasi terlebih dahulu, sebelum kemudian beralih ke pasar nilai tukar. "Strateginya masih rahasia, kalau dikasih tahu nanti musuh tahu. Tapi kita akan coba melihat apakah kita bisa membantu stabilitas di pasar bond, nanti pelan-pelan ke pasar nilai tukar juga," tambahnya. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia di tengah gejolak pasar keuangan global.











