Investasi China Rp1,4 T di Ayam Petelur: Kementan & Kadin Klarifikasi Fokus Peternak Lokal

Budi Santoso

Investasi China Rp1,4 T di Ayam Petelur: Kementan & Kadin Klarifikasi Fokus Peternak Lokal

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan klarifikasi mendalam terkait potensi investasi dari investor China senilai Rp1,4 triliun untuk industri peternakan ayam petelur nasional. Investasi ini disebut-sebut akan difokuskan pada pembangunan peternakan di rantai hulu, mencakup breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, didampingi Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan, Cecep M. Wahyudin, menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan peternak rakyat dalam setiap pengembangan industri perunggasan.

Agung Suganda menekankan bahwa pemerintah memastikan investasi perunggasan memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri, memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga ketahanan pangan. Pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui penguatan kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, dan BUMN sektor pangan. Pemerintah membuka ruang investasi, namun dengan syarat investasi tersebut harus memperkuat struktur industri nasional dari hulu hingga hilir, dengan tetap mengutamakan kepentingan peternak dalam negeri. "Kita ingin industri ini tumbuh sehat. Karena itu pemerintah mendorong model kemitraan yang melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, dan BUMN sebagai bagian dari penguatan rantai pasok nasional," ujar Agung.

Sementara itu, Cecep M. Wahyudin dari Kadin menilai pemberitaan yang beredar mengenai investasi tersebut terlalu dini dan jauh dari kenyataan lapangan. Ia menjelaskan bahwa Kadin Indonesia, sebagai pintu masuk bagi investor, menerima berbagai tawaran, namun rencana investasi dari China ini masih dalam tahap sosialisasi awal dan belum ada rencana pengembangan lebih lanjut. "Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat untuk masuk ke Indonesia untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia. Jadi masih tahap sosialisasi," tegas Cecep. Ia menambahkan bahwa Kadin memahami permintaan dan penawaran di lapangan, serta memprioritaskan hal-hal yang penting.

Baca Juga :  Rupiah Melemah, Pasokan BBM Tetap Aman, ESDM Jamin Stok Berlimpah

Sebelumnya, Kadin Indonesia dan Kadin Provinsi Aceh telah menerima kunjungan delegasi bisnis China pada 21 April 2026 untuk membahas kerja sama dalam ekosistem agroteknologi China guna memperkuat rantai pasok. Rencana awal memang menyasar investasi Rp1,4 triliun untuk peternakan ayam petelur di rantai hulu, termasuk breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur di Aceh, dengan tujuan membentuk ekosistem industri peternakan terintegrasi secara horizontal melalui kemitraan dengan peternak mandiri/rakyat.

Cecep menegaskan bahwa pertemuan tersebut hanya berfokus pada investasi dan transfer teknologi, khususnya di sektor ayam petelur di Aceh. Ia memastikan, perusahaan China tersebut tidak akan menjadi integrator vertikal dalam industri peternakan ayam petelur di Indonesia, merujuk pada regulasi UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, serta Permentan No. 32/2017 terkait Pengendalian Supply-Demand. Perusahaan China diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi melalui konsep integrasi horizontal, sejalan dengan program unggulan Kadin Bidang Peternakan. Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah guna memperkuat kedaulatan dan ketahanan pangan nasional.

Also Read

Tinggalkan komentar