Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi: Dari Nikel Hingga Mobil Listrik

Budi Santoso

Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi: Dari Nikel Hingga Mobil Listrik

Pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral sebagai program unggulan yang signifikan bagi perekonomian nasional. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga menciptakan efek pengganda ekonomi yang luas. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menyoroti keberhasilan hilirisasi komoditas nikel dan tembaga. Pembukaan smelter tembaga oleh Freeport di Gresik menjadi contoh nyata peningkatan nilai tambah. Namun, Bisman menekankan bahwa hilirisasi seharusnya tidak berhenti pada produk setengah jadi, melainkan berlanjut hingga industri akhir. Pengembangan industri elektronik, baterai, dan kendaraan listrik yang memanfaatkan nikel dan tembaga adalah langkah krusial. Dengan demikian, produk tambang tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk jadi yang siap dikonsumsi, mendorong peningkatan produksi dan penyerapan domestik.

Nikel, misalnya, harus diarahkan untuk produksi baterai mobil listrik dan industri kendaraan listrik (EV) secara keseluruhan. Tembaga, di sisi lain, berpotensi mendukung industri elektronik dan komponen listrik lainnya. Smelter tembaga di Gresik perlu didukung oleh pengembangan industri hilir seperti produsen kabel, komponen kelistrikan, dan kendaraan listrik untuk memaksimalkan penyerapan tembaga domestik. Hal ini penting untuk menciptakan efek pengganda, mulai dari penciptaan lapangan kerja yang signifikan hingga menjadi stimulus bagi industri pendukung di sekitar fasilitas pengolahan. Pertumbuhan pabrik dan industri baru akan menciptakan kebutuhan tenaga kerja yang besar, yang merupakan tujuan utama dari pengembangan sektor pertambangan.

Baca Juga :  IHSG Tertekan di Awal Juni, Asing Jual Bersih Rp66,2 T

Saat ini, industri tembaga nasional didominasi oleh pemain besar seperti PT Freeport Indonesia (PTFI). PTFI mampu memproduksi konsentrat sekitar 3,2 juta ton per tahun, menghasilkan sekitar 900 ribu ton tembaga dan 50-60 ton emas. Proyeksi produksi tembaga PTFI pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 478 ribu ton, dengan proyeksi harga tembaga naik signifikan menjadi US$ 4,75 per pound dan emas mencapai US$ 4.000 per ounce. Peningkatan harga ini diperkirakan akan meningkatkan penerimaan negara dari PTFI menjadi US$ 2,9 miliar, dari proyeksi awal US$ 2,7 miliar. Perluasan industri hilir ini tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memberikan kontribusi substansial bagi pendapatan negara dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melalui penciptaan lapangan kerja dan stimulasi industri pendukung.

Also Read

Tinggalkan komentar