
Pemerintah Indonesia dipastikan segera mengimpor minyak mentah dari Rusia dalam waktu dekat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa kesepakatan impor minyak dari negara beruang merah tersebut telah rampung dan kontrak telah diteken. Saat ini, fokus utama tinggal pada penyelesaian skema pengiriman yang diharapkan tuntas dalam satu hingga dua minggu mendatang.
"Secara deal sudah. Kontrak sudah. Sekarang bicara tentang teknik pengirimannya dan mungkin satu dua minggu ini sudah bisa, ya," ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026). Pernyataan ini memberikan angin segar terkait upaya Indonesia untuk mengamankan pasokan energi, terutama di tengah fluktuasi harga minyak global.
Sebelumnya, Menteri Bahlil telah menegaskan bahwa harga minyak yang akan diimpor dari Rusia akan mengikuti mekanisme pasar. "Harga pasti akan terjadi dinamis ya. Harga itu akan menyesuaikan dengan harga pasar dan tergantung negosiasi kita," kata Bahlil pada Jumat (17/4/2026). Fleksibilitas harga ini menjadi salah satu poin penting dalam negosiasi, memastikan Indonesia mendapatkan harga yang kompetitif.
Lebih lanjut, Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, telah memberikan gambaran mengenai opsi jalur pengiriman minyak Rusia ke Indonesia. Pemerintah tengah menyusun payung regulasi untuk dua opsi utama: melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau menggunakan mekanisme Badan Layanan Umum (BLU). Masing-masing opsi memiliki pertimbangan tersendiri, termasuk terkait konsekuensi bagi BUMN dan kemudahan pembiayaan melalui BLU.
"Ini dua opsi ini lagi kita siapkan payung regulasinya. Karena kalau ini BUMN itu kan juga ada konsekuensi dan juga kalau BLU itu apa kemudahan yang termasuk pembiayaan. Itu juga lagi kita bahas antara kementerian lembaga," jelas Yuliot. Diskusi antar kementerian dan lembaga terkait terus dilakukan untuk menentukan skema yang paling efektif dan efisien.
Selain itu, pemerintah juga sedang berkoordinasi dengan badan usaha terkait, termasuk membahas jalur logistik yang akan digunakan untuk mendatangkan minyak tersebut. "Kemudian itu juga dengan badan usaha termasuk bagaimana pada saat impor, jalur mana yang akan digunakan," tambah Yuliot. Perencanaan matang ini penting untuk memastikan kelancaran proses impor dan ketersediaan pasokan minyak bagi kebutuhan domestik Indonesia.
Keputusan untuk mengimpor minyak dari Rusia ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam diversifikasi sumber energi dan menjaga stabilitas pasokan. Dengan selesainya kesepakatan kontrak dan dimulainya pembahasan teknis pengiriman, Indonesia semakin dekat untuk merealisasikan pasokan minyak dari salah satu produsen minyak terbesar di dunia tersebut. Perkembangan lebih lanjut mengenai skema pengiriman dan implementasinya akan terus dipantau.











