
Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menanggapi kekhawatiran para pedagang yang memilih hengkang dari platform lokapasar akibat kenaikan biaya administrasi. Ketua Umum idEA, Hilmi Adrianto, menjelaskan bahwa penyesuaian struktur biaya ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem e-commerce yang lebih berkelanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri ini sangat bergantung pada subsidi. Namun, ke depan, diperlukan keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan, baik bagi platform maupun para penjual.
Hilmi Adrianto menekankan bahwa sebagai fasilitator, platform e-commerce terus melakukan investasi besar dalam pengembangan teknologi, sistem logistik yang efisien, metode pembayaran yang aman, serta perlindungan konsumen. Semua layanan ini membutuhkan biaya operasional yang signifikan. Oleh karena itu, penyesuaian model bisnis menjadi suatu keharusan untuk memastikan kelangsungan dan kualitas layanan yang diberikan. idEA menyadari bahwa perubahan kebijakan ini dapat menimbulkan dampak bagi para pelaku usaha. Asosiasi berkomitmen untuk mendengarkan setiap masukan dan keluhan yang disampaikan oleh para pedagang.
Menurut Hilmi, transparansi dan keseimbangan adalah elemen kunci untuk menjaga kesehatan platform e-commerce. Hal ini juga penting agar para penjual memiliki pilihan yang beragam dan ruang yang memadai untuk berkembang serta bersaing secara adil. idEA meyakini bahwa ekosistem e-commerce di Indonesia harus dibangun di atas fondasi keberlanjutan, persaingan yang sehat, dan kolaborasi yang kuat. Dengan demikian, ekosistem ini akan menjadi pilar kokoh bagi ekonomi digital yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Peningkatan biaya administrasi ini diharapkan dapat mengarah pada model bisnis yang lebih stabil dan menguntungkan bagi semua pihak dalam jangka panjang, seiring dengan upaya platform untuk terus berinovasi dan memberikan layanan terbaik.











