Rupiah Menguat Tipis, BI Jamin Kebutuhan Valas Tetap Terpenuhi

Budi Santoso

Rupiah Menguat Tipis, BI Jamin Kebutuhan Valas Tetap Terpenuhi

Pada perdagangan Jumat sore (24/4/2026), nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis ke level Rp17.268 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat mengalami pelemahan hingga menyentuh Rp17.300. Pemerintah menilai pelemahan tersebut dipicu oleh meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memastikan bahwa kebutuhan valuta asing (valas) masyarakat dan korporasi akan tetap terpenuhi meskipun permintaan meningkat pada periode April hingga Mei 2026.

Lonjakan permintaan valas ini, menurut Perry, dipicu oleh beberapa faktor musiman. Pertama, kebutuhan masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah dan haji yang biasanya meningkat pada periode tersebut. Kedua, korporasi yang melakukan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri juga turut berkontribusi pada peningkatan permintaan valas. "Kebetulan secara musiman, April dan Mei itu permintaan valasnya tinggi," ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Meskipun pelemahan nilai tukar rupiah masih berlangsung, Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap berupaya maksimal untuk menjaga stabilitas rupiah. Upaya ini dilakukan dengan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah. "Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out," tegas Perry, menyadari bahwa pelemahan rupiah merupakan fenomena global yang dialami oleh seluruh mata uang dunia.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah didorong oleh sejumlah faktor global yang signifikan. Tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi menjadi salah satu pemicu utama, ditambah dengan meningkatnya harga minyak dunia. Selain itu, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi juga mendorong investor asing untuk menarik dananya dari negara-negara emerging market, yang pada gilirannya memperkuat nilai tukar dolar AS.

Baca Juga :  Menkop Ferry Juliantono Dorong Koperasi Merah Putih NTT Jadi Mandiri

Menyikapi kondisi ini, Perry menekankan bahwa rupiah saat ini dinilai undervalued jika dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dan musiman, bukan karena fundamental ekonomi domestik yang melemah.

Pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar secara cermat guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi. Dengan berbagai instrumen kebijakan yang tersedia dan koordinasi yang kuat antara lembaga, diharapkan stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga demi kelancaran perekonomian nasional. Kesiapan dalam memenuhi kebutuhan valas, baik untuk kebutuhan individu maupun korporasi, menjadi prioritas untuk meminimalkan dampak negatif dari fluktuasi nilai tukar.

Also Read

Tinggalkan komentar