Biaya Admin Platform E-commerce Naik, Pedagang Kecil Tertekan

Budi Santoso

Biaya Admin Platform E-commerce Naik, Pedagang Kecil Tertekan

Kenaikan biaya administrasi di berbagai platform niaga-el mulai menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para pedagang daring, khususnya pelaku usaha kecil. Di tengah ketidakpastian volume penjualan, peningkatan potongan biaya dari platform kian memberatkan, menyebabkan keuntungan yang diperoleh pedagang kecil semakin menipis. Situasi ini memaksa mereka untuk berinovasi dan mencari strategi baru demi kelangsungan usaha.

Cindy Wulan, seorang penjual pakaian yang memanfaatkan platform belanja daring dan fitur siaran langsung, mengungkapkan bahwa ia kini harus lebih cermat dalam menjaring pembeli. Ia merasakan bahwa keuntungan yang didapat tidak lagi sebesar dulu akibat banyaknya biaya yang harus dipotong oleh platform. "Potongannya sekarang besar banget, jadi keuntungan saya juga kepangkas," keluhnya kepada Republika, Kamis (7/5/2026). Cindy mengakui bahwa kondisi usaha tidak selalu stabil; ada kalanya dagangan laris manis, namun tak jarang pula hari-hari sepi pembeli. "Namanya jualan enggak selalu ada yang beli. Kadang pembeli bosan, kadang sudah pernah beli, kadang sekali beli langsung banyak," tambahnya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut dan tetap bertahan, Cindy tidak hanya mengandalkan penjualan melalui platform niaga-el. Ia secara aktif memperluas jangkauan pemasarannya dengan menawarkan dagangannya melalui status WhatsApp dan memanfaatkan jejaring sosial di lingkungan sekitarnya. "Kadang promosi lewat story WhatsApp, kadang dibawa juga ke sekolah anak," tuturnya. Diversifikasi kanal penjualan ini menjadi kunci baginya untuk menjaga arus kas dan meminimalkan ketergantungan pada satu platform saja.

Baca Juga :  Mayoritas Pekerja Indonesia Berstatus Informal, BPS Ungkap Data

Keluhan serupa juga datang dari Agus Darmanto, yang menggeluti bisnis sembako dan kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, biaya administrasi yang semakin tinggi ini datang pada saat keuntungan usaha sedang tipis dan jumlah pengunjung toko daring mengalami penurunan. "Di era biaya admin yang semakin tinggi, margin tipis, dan trafik turun, masih saja pembeli mengira penjual yang pegang ekspedisi," ujar Agus dengan nada prihatin. Ia menjelaskan bahwa penjual seringkali menjadi sasaran kemarahan pembeli ketika barang pesanan mengalami keterlambatan, padahal proses pengiriman sepenuhnya dikelola oleh jasa ekspedisi. "Yang kirim ekspedisi, yang kena marah seller," keluhnya.

Menghadapi tantangan ini, Agus mengambil langkah strategis dengan meningkatkan aktivitas promosi di berbagai media sosial. Selain itu, ia juga memfokuskan diri untuk menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga yang permintaannya cenderung stabil dan paling dicari oleh pembeli. Dengan demikian, ia berharap dapat mempertahankan daya saing bisnisnya di tengah persaingan yang semakin ketat dan biaya operasional yang terus meningkat.

Also Read

Tinggalkan komentar