
Indonesia membuka peluang kerja sama hilirisasi nikel dengan Filipina, yang kemungkinan besar akan terjalin dalam skema business to business (B-to-B) antara para pengusaha kedua negara. Potensi kerja sama ini mengemuka menjelang kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Filipina pekan ini, di mana beliau dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu pada 7-8 Mei 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa belum ada kesepakatan kerja sama antar pemerintah (government to government / G-to-G), namun pintu selalu terbuka lebar untuk kolaborasi B-to-B yang saling menguntungkan.
Bahlil menyatakan kesiapan Indonesia, baik dari sisi pemerintah maupun sektor korporasi, untuk membuka segala bentuk kerja sama di sektor hilirisasi dan industrialisasi. Jika Filipina menunjukkan minat dan kesiapan untuk bekerja sama, Indonesia akan menyambutnya dengan tangan terbuka. "Negara kita sekarang kan masuk dalam negara yang menganut mazhab hilirisasi dan industrialisasi. Nah, salah satu negara yang mempunyai cadangan nikel itu Filipina, tapi dia kan jumlahnya nggak banyak sebenarnya," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa (5/5/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi strategi Indonesia yang fokus pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan dalam negeri.
Nikel merupakan salah satu komoditas tambang unggulan Indonesia, mengingat besarnya cadangan yang dimiliki. Sejak tahun 2020, Indonesia telah memberlakukan larangan ekspor nikel mentah, mewajibkan seluruh hasil tambang nikel untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri sebelum diekspor. Kebijakan hilirisasi ini bertujuan untuk memaksimalkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan industri pendukung.
Nikel memiliki peran vital dalam berbagai industri modern. Mineral ini merupakan bahan baku utama dalam produksi baja tahan karat (stainless steel) yang banyak digunakan dalam konstruksi, otomotif, hingga peralatan rumah tangga. Selain itu, nikel juga menjadi komponen krusial dalam pembuatan baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle / EV), seiring dengan meningkatnya tren elektrifikasi transportasi global. Penggunaan nikel juga meluas ke sektor pelapisan logam (plating) untuk memberikan ketahanan terhadap karat, campuran logam khusus untuk industri seperti turbin pesawat, serta dalam pembuatan koin dan peralatan dapur. Dengan potensi cadangan nikel yang signifikan, Indonesia terus berupaya menjadi pemain utama dalam rantai pasok global nikel olahan, dan kerja sama dengan negara seperti Filipina dapat memperkuat posisi tersebut serta mendorong industrialisasi di kawasan ASEAN.
Upaya hilirisasi nikel Indonesia telah menunjukkan hasil yang positif, dengan peningkatan nilai ekspor produk olahan nikel yang signifikan. Kebijakan ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi ketergantungan pada bahan mentah dan mendorong praktik industri yang lebih berkelanjutan. Peluang kerja sama dengan Filipina, yang juga memiliki cadangan nikel meski dalam jumlah yang tidak sebesar Indonesia, dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar dan memfasilitasi transfer teknologi serta keahlian dalam industri pengolahan nikel. Kolaborasi B-to-B ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara, serta memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat produksi nikel olahan dunia.











