Ketahanan Energi RI Terbaik Dunia, Ungguli AS & China

Budi Santoso

Ketahanan Energi RI Terbaik Dunia, Ungguli AS & China

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa ketahanan energi Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia, menempatkan Indonesia di urutan teratas berdasarkan kajian lembaga internasional. Hasil analisis JP Morgan menempatkan Indonesia pada posisi kedua sebagai negara dengan daya tahan terkuat terhadap krisis energi global, bahkan melampaui negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Australia. Purbaya menyatakan, "Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi kita itu amat kuat itu nomor 2 tuh kalau sebelah kanan tuh ketahanan energi terhadap krisis energi global. Walau krisis global kita nomor 2 paling kuat dibanding negara-negara lain bahkan di atas Amerika, China, Australia dan lain-lain. Ini dari JP Morgan," dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Jakarta.

Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan bahwa Asian Development Bank (ADB) juga memiliki studi serupa yang menunjukkan posisi kuat Indonesia. Namun, hasil studi ADB tidak dipublikasikan secara luas untuk menghindari potensi ketidakstabilan di negara lain yang memiliki peringkat lebih rendah. Purbaya menambahkan, "ADB juga melakukan hal yang sama, studi yang sama. Cuma mereka nggak bisa publish, karena kalau mereka publish nanti negara-negara yang di bawah goncang, jadi minta jangan di-publish. Tapi official ADB bilang sama saya kita di atas, mungkin di top dua juga."

Dengan fondasi energi yang kokoh ini, Purbaya menegaskan bahwa Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan global. Meskipun kewaspadaan tetap diperlukan, ia menekankan bahwa tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan. "Jadi di tengah krisis energi dan krisis global ini kita fondasinya amat kuat. Jadi nggak usah takut. Kita perlu concern tapi nggak usah khawatir berlebihan," tegasnya.

Baca Juga :  Ekspor Pipa Stainless Steel ke Jerman: Jejak Industri Lokal di Panggung Global

Menanggapi pandangan pesimistis yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998, Purbaya membantahnya. Ia menilai anggapan tersebut tidak didukung oleh data yang akurat dan cenderung mengabaikan perbedaan fundamental kondisi ekonomi antara masa lalu dan sekarang. "Apalagi yang di luar bilang kita mau hancur, mau ini, mau kayak 1998, saya nggak ngerti itu. Mereka tidak punya data-data yang akurat. Mungkin 1998 juga sebagian belum pada lahir tuh, terus analisa. Tapi tidak lihat pada waktu itu apa yang terjadi di ekonomi kita," tutupnya. Ketahanan energi yang kuat ini menjadi salah satu pilar penting bagi stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Also Read

Tinggalkan komentar