
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendadak meninggalkan ruangan Konferensi Pers APBN KITA di Aula Djuanda, Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia terpaksa mengakhiri kehadirannya karena ada tamu penting yang tidak bisa menunda pertemuan. "Saya izin dulu ya, ada tamu yang penting, yang nggak bisa saya suruh tunggu, nanti saya dimarahin," ujarnya dengan singkat sebelum menyerahkan estafet jalannya acara kepada Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara. Purbaya meninggalkan ruangan tepat saat sesi tanya jawab dengan awak media akan dimulai, setelah sebelumnya sempat memaparkan kinerja APBN tahun 2026 serta berbagai isu ekonomi terkini.
Salah satu isu yang disinggung Purbaya adalah anggapan publik mengenai pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia yang goyah. Ia menekankan bahwa otoritas yang berwenang untuk menjelaskan pergerakan rupiah adalah Bank Indonesia (BI), bukan Kementerian Keuangan. "Kalau rupiah tanya BI ya, jangan tanya saya. Mereka yang berhak menjawab," tegas Purbaya, sembari menyebutkan bahwa saat itu nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.423, mengalami penguatan tipis 0,17%.
Lebih lanjut, Purbaya meyakinkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 masih dalam kendali. Data menunjukkan defisit tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN sepanjang tahun di bawah batas aman 3% sesuai dengan desain fiskal yang telah ditetapkan. Purbaya juga memberikan peringatan agar angka defisit kuartal I tidak disederhanakan dengan cara mengalikannya empat kali untuk memproyeksikan kinerja setahun penuh. Ia menjelaskan bahwa proyeksi tersebut tidak akurat karena belanja dan pendapatan negara memiliki siklus yang berbeda setiap tahunnya. "Surplus dan defisit, mencapai Rp 240,1, itu defisit, itu 0,93% dari PDB. Tapi nanti jangan dikali 4, karena setiap tahun akan beda belanjanya dan siklus incomenya beda, siklus belanjanya beda, yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3% sesuai dengan desain APBN," jelasnya. Ia menambahkan, "Jadi defisit Rp 240,1 itu 0,93%. Kalo dikali 4 berapa? Orang di pasar kan gitu ngalinya empat, itu 3,6% katanya. Itu itungannya ngaco, karena APBN turun naik, income juga naik, ada siklusnya." Pernyataan ini disampaikan di tengah berbagai spekulasi yang beredar di kalangan pelaku pasar.











