
Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal berpotensi menghantui dalam tiga bulan ke depan akibat pecahnya perang di Timur Tengah. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaporkan adanya diskusi antara serikat pekerja dan perwakilan perusahaan mengenai potensi pengurangan tenaga kerja. Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), mulai dari benang, kain, hingga polyester, menjadi yang paling merasakan dampaknya. Presiden KSPI, Said Iqbal, membenarkan laporan ini, menyatakan bahwa ancaman PHK paling terasa di industri TPT berdasarkan laporan dari anggota KSPI di tingkat perusahaan.
Selanjutnya, industri plastik juga menghadapi tekanan signifikan akibat lonjakan harga bahan baku impor. Kenaikan harga bahan baku plastik, yang mayoritas berasal dari impor dan dibeli menggunakan dolar AS, berbanding terbalik dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini menyebabkan biaya produksi melonjak tajam, memaksa produsen menaikkan harga jual produk plastik. Kenaikan harga plastik ini berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya menekan permintaan dan berpotensi memicu PHK. Said Iqbal mencontohkan, kenaikan harga plastik hingga 50% membuat masyarakat beralih ke alternatif lain seperti penggunaan daun untuk membungkus, menunjukkan penurunan permintaan yang signifikan.
Dampak negatif ini diperkirakan akan merembet ke sektor lain yang banyak menggunakan komponen plastik, seperti industri elektronik dan otomotif. Industri elektronik, yang menggunakan plastik untuk frame perangkatnya, dan industri otomotif, yang menggunakan plastik untuk spakbor dan berbagai komponen lainnya, juga terancam. KSPI berharap ketegangan di Timur Tengah antara pihak-pihak yang berkonflik dapat segera mereda agar harga bahan baku, termasuk plastik, dapat kembali stabil. Namun, Said Iqbal mengakui bahwa perusahaan-perusahaan memandang situasi ini tidak akan mudah untuk diatasi dalam waktu dekat.
Selain itu, sektor semen juga menghadapi ancaman PHK akibat kondisi oversupply atau kelebihan pasokan yang diperparah oleh pelemahan permintaan di tengah situasi perang. Masuknya pabrik semen baru justru memperketat persaingan, mendorong perlunya efisiensi tenaga kerja. Dengan permintaan semen yang menurun dan persaingan yang semakin ketat, PHK menjadi langkah efisiensi yang kemungkinan akan ditempuh oleh perusahaan di sektor ini.
Hingga berita ini diturunkan, serikat pekerja belum menerima respons resmi dari pemerintah terkait ancaman PHK massal ini, dan belum ada rencana diskusi yang konkret mengenai penanganan isu tersebut.











