Inflasi April 2026: Terkendali Namun Waspadai Tekanan ke Depan

Budi Santoso

Inflasi April 2026: Terkendali Namun Waspadai Tekanan ke Depan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada April 2026 sebesar 0,13% secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan ini menyebabkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bergeser dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada bulan berikutnya. Secara kumulatif, inflasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) tercatat sebesar 1,06%. Tingkat inflasi tahunan pada April 2026 berada di angka 2,42%, yang menurut Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, masih berada dalam rentang target yang ditetapkan pemerintah dan dianggap masih terkendali.

Meskipun demikian, Tauhid mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi ke depan yang perlu diwaspadai. Tingkat inflasi ytd yang sudah mencapai sekitar 1% dalam empat bulan pertama tahun ini mengindikasikan adanya tren kenaikan harga yang mulai terasa. Tekanan ini dipicu oleh kenaikan harga komponen non-subsidi, serta meningkatnya biaya input produksi dan logistik global. Dampaknya, kenaikan harga diperkirakan akan terus merambat ke berbagai sektor dalam beberapa bulan mendatang. "Itu perlu diwaspadai begitu ya. Kenapa? Karena pada situasi ke depan dengan harga tinggilah, akan mulai terasa begitu ya. Kalau sekarang masih sedikit-sedikit karena yang non-subsidi kan naik, ya. Tetapi yang lain rambatannya masih kecil-kecil," jelasnya.

Berdasarkan data BPS, kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan adalah transportasi, dengan inflasi sebesar 0,99% dan andil 0,12% terhadap inflasi umum. Komoditas utama yang mendorong inflasi di sektor ini adalah tarif angkutan udara (andil 0,11%) dan bensin (andil 0,02%). Selain sektor transportasi, beberapa komoditas pangan juga ikut mendorong inflasi, seperti minyak goreng (andil 0,05%), tomat (andil 0,03%), serta beras dan nasi dengan lauk (masing-masing 0,02%).

Baca Juga :  Kakek Mujiran Bebas: PTPN Tempuh Keadilan Restoratif

Namun, terdapat pula komoditas yang memberikan andil deflasi pada April 2026, di antaranya daging ayam ras (andil deflasi 0,11%), emas perhiasan (0,09%), cabai rawit (0,06%), dan telur ayam ras (0,04%).

Dilihat dari komponennya, inflasi April 2026 terutama ditopang oleh komponen inti, yang mengalami inflasi sebesar 0,23% dengan andil terbesar 0,15%. Komoditas dominan penyumbang inflasi komponen inti meliputi minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, ayam goreng, laptop atau notebook, serta gula pasir. Komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami inflasi sebesar 0,69% dengan andil 0,13%, didorong oleh tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, dan sigaret kretek mesin. Sebaliknya, komponen harga bergejolak justru mengalami deflasi sebesar 0,88% dengan andil deflasi 0,15%, dipicu oleh penurunan harga daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.

Also Read

Tinggalkan komentar