Inflasi April 2026 Mereda ke 2,42%, Emas Dongkrak Angka

Budi Santoso

Inflasi April 2026 Mereda ke 2,42%, Emas Dongkrak Angka

Inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 menunjukkan perlambatan signifikan, tercatat sebesar 2,42% (year-on-year), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,48%. Penurunan ini, menurut Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti, disebabkan oleh hilangnya efek low base tarif listrik yang sempat menaikkan inflasi pada Januari hingga Maret 2026. Periode tersebut mencatat inflasi tahunan masing-masing 3,55%, 4,76%, dan 3,48%. "Inflasi tahunan pada April 2026 mereda ke angka 2,42%. Pada bulan ini sudah tidak ada lagi dampak low base effect tarif listrik. Inflasi lebih didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau," ujar Amalia dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi tahunan, dengan andil 0,90% dan tingkat inflasi 3,06%. Namun, yang menjadi sorotan adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat inflasi tertinggi mencapai 11,43% dengan andil 0,77%. Pemicunya adalah lonjakan harga emas perhiasan yang memberikan andil signifikan terhadap inflasi umum. Amalia menambahkan, "Jika harga emas perhiasan tidak mengalami inflasi, maka inflasi tahunan April 2026 diperkirakan sebesar 1,71%."

Secara keseluruhan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi tahunan. Komponen harga bergejolak mencatat inflasi tertinggi 3,37% dengan andil 0,56%, didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Komponen inti mengalami inflasi 2,44% dengan andil 1,56%, dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta biaya pendidikan tinggi. Sementara itu, komponen yang diatur pemerintah menunjukkan inflasi lebih rendah, yaitu 1,53% dengan andil 0,30%, terutama akibat kenaikan tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).

Baca Juga :  Subsidi Mobil Listrik: Stimulus Ekonomi Nasional 100 Ribu Unit

Secara geografis, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada April 2026. Provinsi Papua Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,00%, sementara Lampung menjadi provinsi dengan inflasi terendah, yakni 0,53%. Data BPS ini menunjukkan dinamika harga yang kompleks, di mana faktor seperti komoditas emas dan kebutuhan pokok memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan inflasi nasional.

Also Read

Tinggalkan komentar