Rupiah Tertekan, Masalah Struktural Jadi Sorotan Utama

Budi Santoso

Rupiah Tertekan, Masalah Struktural Jadi Sorotan Utama

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengemukakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak hanya disebabkan oleh faktor moneter semata. Ia menegaskan bahwa kondisi ini juga mencerminkan adanya persoalan struktural yang lebih mendalam dalam perekonomian Indonesia. Penurunan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik menjadi salah satu indikasi utama dari permasalahan ini.

"Masalah rupiah ini bukan hanya dari sisi moneter. Banyak hal, misalnya masalah fiskal yang berat, masalah ketahanan energi, yang pada akhirnya membuat investor menilai ini bukan waktu yang tepat untuk mengoleksi portofolio di dalam negeri Indonesia," jelas Manap dalam sebuah diskusi di Jakarta. Ia merujuk pada situasi yang terjadi saat ini sebagai cerminan dari keraguan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Menurut Manap, pelemahan nilai tukar rupiah semakin diperparah oleh fenomena arus keluar modal asing yang terus-menerus terjadi. Investor global mulai mengambil langkah strategis dengan melepas aset atau portofolio mereka di pasar domestik. Aktivitas ini secara langsung memberikan tekanan yang semakin dalam terhadap nilai tukar rupiah, mendorongnya untuk terdepresiasi lebih lanjut.

"Ini juga menjadi sinyal bagi pemerintah, persoalan tingkat kepercayaan investor global terhadap Indonesia sedang menurun, yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri yang menyebabkan rupiah semakin terpuruk," tambah Manap. Ia menekankan bahwa tren pelepasan aset oleh investor asing ini merupakan indikator penting yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Baca Juga :  Permenaker Atur Jelas Pekerja Outsourcing, Lindungi Hak Buruh

Manap lebih lanjut memaparkan bahwa kondisi sektor keuangan saat ini juga tidak lagi kondusif untuk menarik masuknya aliran modal asing. Jika sebelumnya terdapat tiga sumber utama masuknya modal atau capital inflow yang signifikan, yaitu melalui investasi saham, Surat Berharga Republik Indonesia (SRBI), dan Surat Berharga Negara (SBN), kini situasinya berbeda. Saat ini, hanya SBN yang masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil dan mampu menahan laju pelemahan.

"Sekarang yang masih positif SBN, SRBI dan saham justru sedang melemah, jadi tidak menentu," ujar Manap. Perubahan pola ini mengindikasikan adanya ketidakpastian yang lebih besar dalam pasar keuangan domestik, yang berpotensi menghalangi masuknya modal baru. Ketidakpastian ini, baik di pasar saham maupun instrumen lain seperti SRBI, menciptakan lingkungan yang kurang menarik bagi investor.

Dalam menghadapi situasi yang kompleks ini, Manap menekankan urgensi dari langkah-langkah koordinatif yang melibatkan berbagai sektor. Ia berpendapat bahwa intervensi pasar semata tidak akan cukup untuk secara efektif menahan tekanan yang dialami oleh rupiah. Diperlukan upaya yang lebih komprehensif dan terintegrasi.

"Salah satunya yang perlu dilakukan setelah intervensi di pasar memang bagaimana nanti BI, Kementerian Keuangan, atau KSSK itu bisa memberikan sinyal positif, tetapi positif yang benar-benar konkret, bukan hanya narasi," tegas Manap. Ia mendorong agar pemerintah, melalui Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), mampu memberikan sinyal yang tidak hanya bersifat retorika, tetapi juga didukung oleh tindakan dan kebijakan yang nyata serta terukur. Sinyal positif yang konkret akan mampu memulihkan kepercayaan investor dan pada akhirnya menstabilkan nilai tukar rupiah.

Baca Juga :  Saham BBCA Tertekan Faktor Global, Analis Tetap Rekomendasikan Beli

Also Read

Tinggalkan komentar