IHSG Anjlok, Investor Diminta Tetap Tenang dan Selektif

Budi Santoso

IHSG Anjlok, Investor Diminta Tetap Tenang dan Selektif

Investor pasar modal Indonesia diimbau untuk tidak panik menghadapi koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini. Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menekankan pentingnya kembali mengevaluasi fundamental emiten sebelum membuat keputusan investasi. IHSG tercatat melemah signifikan sejak Rabu (4/6), terkoreksi 4,11% ke level 5.941,06, dan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari berikutnya meskipun dengan koreksi yang lebih kecil.

Reydi Octa menyarankan agar investor tetap fokus pada evaluasi fundamental emiten. "Jika fundamental masih kuat, koreksi saat ini lebih tepat disikapi dengan disiplin dan selektif, bukan menjual secara emosional," ujarnya. Ia menambahkan bahwa investor dapat melakukan rebalancing portofolio dengan mengurangi porsi pada saham-saham yang prospeknya kurang baik, dan meningkatkan alokasi pada emiten dengan valuasi yang menarik.

Koreksi IHSG saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor ekonomi makro, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan arus keluar dana asing. Selama sentimen negatif ini berlanjut, tekanan pada IHSG diperkirakan belum akan mereda. Namun, bagi investor jangka panjang, kondisi ini justru dapat menjadi momentum yang tepat untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat.

Selain saham, instrumen reksa dana juga dapat menjadi alternatif investasi yang menarik. Perencana keuangan Advisors Alliance Group, Andy Nugroho, menilai reksa dana sebagai instrumen yang relatif berisiko rendah. Ia merekomendasikan investor untuk mempertimbangkan reksa dana berbasis pendapatan tetap, mengingat reksa dana berbasis saham masih berpeluang mengalami koreksi sejalan dengan pelemahan IHSG. "Reksa dana sendiri, ya kalau dalam kondisi seperti sekarang, yang paling masih bisa memberikan cuan gitu kan, yaitu reksadana yang basisnya adalah pendapatan tetap ataupun di pasar saham," jelasnya.

Baca Juga :  Indonesia dan Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Selain reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN) dan sukuk negara ritel juga menawarkan risiko yang rendah dan stabilitas yang lebih tinggi karena diterbitkan langsung oleh pemerintah. Meskipun imbal hasilnya mungkin tidak setinggi reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap, instrumen ini menawarkan keamanan dan kepastian imbal hasil bulanan yang dijamin oleh pemerintah. Ini menjadikan SBN dan sukuk negara ritel pilihan yang lebih aman bagi investor yang memprioritaskan stabilitas.

Also Read

Tinggalkan komentar