
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya keras memperkuat industri pengolahan susu nasional dengan menawarkan insentif investasi mencapai 35 persen. Langkah strategis ini dirancang untuk memastikan ketersediaan pasokan susu yang memadai bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program unggulan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2024-2029. Uji coba program MBG yang telah dilaksanakan di SDN 4 Kota Tangerang, Banten, pada Senin (5/8/2024), dengan menu seperti Nasi Putih, Fuyunghai, Capcay, Melon, dan Susu, menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam mematangkan strategi dan mitigasi program ini.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengakui adanya ketertinggalan dalam suplai susu untuk program MBG. Saat ini, utilisasi industri pengolahan susu masih berkisar 72 persen, menunjukkan potensi besar untuk peningkatan kapasitas produksi. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kapasitas unit filling yang perlu ditingkatkan untuk memenuhi volume susu yang dibutuhkan. Oleh karena itu, Kemenperin menginisiasi program restrukturisasi yang bertujuan untuk mendorong investasi baru dan ekspansi kapasitas produksi, baik bagi industri pengolahan susu yang sudah ada maupun koperasi yang berkeinginan memproduksi susu siap minum.
Program restrukturisasi ini menawarkan penggantian biaya investasi yang signifikan. Pelaku usaha yang memproduksi produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi dapat memperoleh penggantian biaya investasi hingga 35 persen dari total nilai investasi yang dikeluarkan. Sementara itu, produk dalam negeri lainnya juga berhak mendapatkan penggantian biaya investasi hingga 25 persen. Merrijantij menegaskan bahwa program ini terbuka bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi dan mendapatkan reimburse sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain memberikan insentif investasi, Kemenperin juga berfokus pada penguatan digitalisasi rantai pasok susu segar nasional. Upaya ini krusial untuk menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan susu. Saat ini, sebanyak 96 Tempat Pengumpulan Susu (TPS) yang berasal dari sembilan koperasi telah terintegrasi dalam program digitalisasi ini. Dengan sistem digital, pemantauan pasokan susu dapat dilakukan secara real time, memberikan visibilitas yang lebih baik dan efisiensi dalam pengelolaan rantai pasok. Inisiatif ini diharapkan dapat mengatasi tantangan suplai dan memastikan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dalam jangka panjang, sekaligus mendukung pertumbuhan industri susu nasional.











