Harga Ayam Anjlok, Peternak Menjerit

Budi Santoso

Harga Ayam Anjlok, Peternak Menjerit

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menyoroti anjloknya harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak, yang bahkan ada yang menyentuh Rp 15.000 per kilogram (kg), jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp 19.500 per kg. Kondisi ini sangat memberatkan peternak mandiri dan skala kecil, mengancam kelangsungan usaha mereka. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan segera mengambil langkah taktis dengan menggelar rapat koordinasi bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) dan pelaku rumah potong hewan unggas (RPHU). Tujuannya adalah memperkuat komitmen seluruh rantai usaha perunggasan demi menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, menekankan bahwa peternak rakyat adalah pihak yang paling rentan ketika harga jatuh di bawah biaya produksi. Sementara peternak besar mungkin masih bisa bertahan dengan modal kuat, peternak mandiri berisiko lebih tinggi mengalami kebangkrutan. Kementan mengajak seluruh pelaku industri untuk berkolaborasi menjaga keseimbangan pasar, termasuk dalam pola pembelian yang tidak semakin menekan harga di tingkat peternak.

"Kami mengimbau dan mengharapkan komitmen bersama agar RPHU jangan sampai membeli ayam di bawah harga acuan yang telah disepakati," tegas Ketut. RPHU memegang peran strategis dalam rantai pasok perunggasan nasional sebagai instrumen penting penyerapan produksi dan pengendalian pasokan. Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, Ditjen PKH juga menunda sementara rekomendasi usaha tertentu di sektor perunggasan hingga harga kembali sesuai acuan. "Selama harga belum sesuai acuan pemerintah, seluruh rekomendasi terkait pelaku usaha terkait perunggasan di Ditjen PKH diminta untuk ditunda sementara," ujar Ketut.

Baca Juga :  Insentif Investasi Susu 35% untuk Program Makan Bergizi Gratis

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Hary Suhada, menegaskan bahwa langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga harga ayam hidup pada level yang menguntungkan peternak. "Kami tadi sudah sepakat semua rekomendasi terkait perunggasan sementara kita tunda dulu sampai tercapai harga yang telah ditentukan pemerintah. Saya mohon sekali kolaborasinya untuk tidak berkontribusi dalam penurunan harga," kata Hary.

Menanggapi hal ini, Ketua ARPHUIN, Sigit Pambudi, menyatakan bahwa RPHU tetap berupaya menyerap produksi peternak untuk menjaga keseimbangan pasar. "Situasi yang kami hadapi memang sama-sama sulit. Jadi bukan sesuatu yang kemudian euforia kami mengambil untung atau mengambil kesempatan," ujar Sigit. Ia menambahkan bahwa RPHU tetap menjalankan kegiatan pemotongan secara maksimal, termasuk saat libur panjang, untuk membantu penyerapan ayam hidup dari peternak. "Meskipun tanggal merah kami tetap gaspol melakukan pemotongan untuk menyerap ayam. Jadi kalau kami menekan harga itu tidak ada," tandasnya.

Senada, Keenan Pardede dari RPHU PT Charoen Pokphand Indonesia, menyampaikan bahwa pelaku usaha telah memaksimalkan kapasitas pemotongan, dengan hampir 400 truk dipotong setiap hari, untuk membantu penyerapan produksi peternak di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih. "Kami juga sudah mengikuti arahan Rp 19.500 dan itu menjadi beban produksi yang cukup berat. Karena itu kami berharap lewat forum ini kita bisa kompak," pungkasnya.

Baca Juga :  Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi, Ekonomi Desa Menuju Kuat

Also Read

Tinggalkan komentar