Pelemahan Rupiah: Lebih dari Sekadar Penguatan Dolar AS

Budi Santoso

Pelemahan Rupiah: Lebih dari Sekadar Penguatan Dolar AS

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak semata-mata disebabkan oleh penguatan mata uang global. Kondisi ini juga mencerminkan adanya tantangan fundamental dalam perekonomian domestik yang memerlukan penguatan segera. Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, menjelaskan bahwa meskipun tekanan global memengaruhi banyak mata uang negara berkembang, beberapa mata uang justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS dalam satu hingga dua tahun terakhir. Fakta empiris menunjukkan bahwa mata uang seperti ringgit Malaysia, euro, dan swiss franc menguat terhadap dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor eksternal seperti "strong dollar," tetapi juga berkaitan dengan tantangan fundamental ekonomi domestik.

Farouk menekankan bahwa stabilitas rupiah tidak cukup dijaga hanya melalui intervensi pasar valuta asing atau kenaikan suku bunga. Meskipun kebijakan moneter penting untuk stabilitas jangka pendek, kekuatan rupiah dalam jangka menengah dan panjang sangat bergantung pada kekuatan sektor riil dan produktivitas nasional. Ia menyoroti pentingnya penguatan daya beli masyarakat dan perlindungan terhadap kelas menengah sebagai penopang utama konsumsi nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kelompok kelas menengah dan aspiring middle class merupakan tulang punggung konsumsi nasional, penerimaan pajak, dan stabilitas permintaan domestik. Pelemahan kelompok ini, menurut Farouk, pada akhirnya akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan rupiah itu sendiri.

Baca Juga :  Rupiah Melemah, Harga Pupuk Nonsubsidi Meroket, Petani Tercekik

Selain itu, pemerintah perlu membangun sistem perpajakan yang lebih kompetitif dan adil, terutama bagi kelas menengah, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sektor pencipta lapangan kerja. Sistem perpajakan yang terlalu menekan daya beli masyarakat berpotensi melemahkan konsumsi domestik sekaligus mempersempit pertumbuhan kelas menengah. Sebaliknya, kebijakan perpajakan yang sehat diyakini dapat memperkuat konsumsi, tabungan, dan investasi masyarakat secara berkelanjutan.

Farouk juga mendorong pemerintah untuk mempercepat deregulasi dan debirokratisasi, memperkuat ekspor dan devisa pariwisata, serta mendorong industri substitusi impor strategis. Tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku merupakan salah satu penyebab tingginya permintaan dolar AS, yang membuat rupiah rentan terhadap tekanan eksternal. Stabilitas mata uang pada dasarnya sangat terkait dengan kepercayaan terhadap kapasitas produksi, iklim bisnis yang kondusif, dan daya saing ekonomi suatu negara. Penguatan fundamental ekonomi domestik, termasuk peningkatan produktivitas, daya beli masyarakat, dan reformasi struktural, menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan kekuatan rupiah di masa depan. Kebijakan yang berfokus pada penguatan fondasi ekonomi akan memberikan dampak yang lebih signifikan dan berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan intervensi jangka pendek.

Also Read

Tinggalkan komentar