Dolar AS Dekati Rp17.700, Rupiah Melemah Pagi Ini

Budi Santoso

Dolar AS Dekati Rp17.700, Rupiah Melemah Pagi Ini

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan signifikan terhadap rupiah pada perdagangan pagi hari ini, Jumat, 22 Mei 2026. Mata uang Paman Sam terpantau bergerak naik tajam, mendekati angka psikologis Rp17.700 per dolar AS. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, pada pagi ini, dolar AS diperdagangkan pada level Rp17.698 terhadap rupiah. Angka ini menandai kenaikan sebesar 31 poin atau setara dengan penguatan sebesar 0,18%. Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan jual yang lebih kuat pada mata uang domestik terhadap mata uang Paman Sam.

Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga meluas terhadap sejumlah mata uang utama lainnya di dunia. Dolar AS terpantau menguat terhadap yen Jepang, dolar Australia, dolar Singapura, pound sterling, dan euro. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap dolar AS sedang dominan di pasar global, yang kemungkinan dipicu oleh berbagai faktor ekonomi makro baik di Amerika Serikat maupun di negara-negara mitra dagangnya.

Secara lebih rinci, dolar AS berhasil membukukan penguatan sebesar 0,07% terhadap yen Jepang. Mata uang negeri sakura yang dikenal sebagai aset safe haven pun tidak mampu menahan laju penguatan dolar AS. Selanjutnya, dolar Australia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,15%, sementara dolar Singapura melemah 0,08%. Penguatan ini juga terlihat terhadap mata uang Eropa, di mana dolar AS naik sebesar 0,05% terhadap pound sterling dan menguat 0,07% terhadap euro.

Baca Juga :  Ekonomi RI Tumbuh 5,61% Kuartal I 2026, Lampaui Ekspektasi Global

Namun, ada satu pengecualian dalam penguatan dolar AS pagi ini, yaitu terhadap yuan China. Dolar AS tercatat melemah tipis sebesar 0,02% terhadap mata uang Tiongkok. Pergerakan ini bisa jadi mencerminkan kebijakan moneter atau kondisi ekonomi domestik China yang sedang menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan negara lain, atau adanya intervensi pasar dari otoritas moneter Tiongkok untuk menjaga stabilitas nilai tukar yuan.

Penguatan dolar AS terhadap rupiah ini perlu dicermati lebih lanjut dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Kenaikan nilai tukar dolar AS dapat meningkatkan biaya impor, menaikkan beban utang luar negeri yang dalam denominasi dolar, serta berpotensi memicu inflasi. Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan terus memantau perkembangan nilai tukar ini dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap terkendali dan sesuai dengan fundamental ekonomi. Para pelaku pasar, baik domestik maupun internasional, akan mencermati rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan untuk mengukur arah pergerakan dolar AS dan rupiah selanjutnya.

Also Read

Tinggalkan komentar