
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat lonjakan signifikan dalam penggunaan layanan kereta api bandara, dengan total 3.246.711 penumpang terlayani sepanjang periode Januari hingga April 2026. Angka ini mengindikasikan tren positif penggunaan transportasi berbasis rel sebagai moda akses utama menuju berbagai kawasan bandara di Indonesia. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, merinci bahwa capaian ini merupakan gabungan dari berbagai layanan unggulan, termasuk Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, KA Bandara YIA (Yogyakarta International Airport), KA Srilelawangsa di Medan, KA Minangkabau Ekspres di Padang, serta layanan transportasi rel terintegrasi seperti LRT Sumatera Selatan dan KA BIAS (Bandara Adi Soemarmo).
"Pertumbuhan penggunaan layanan ini memperlihatkan bahwa konektivitas berbasis rel semakin dibutuhkan dalam mendukung pergerakan masyarakat modern," ujar Anne dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (16/5/2026). Ia menambahkan bahwa layanan kereta bandara tidak hanya mempermudah mobilitas penumpang menuju bandara, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat keterhubungan antara kawasan perkotaan, pusat-pusat ekonomi strategis, hingga destinasi pariwisata.
Secara spesifik, layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta mencatat pertumbuhan pelanggan sebesar 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total 837.778 pelanggan pada Januari-April 2026. Peningkatan ini didorong oleh tingginya kebutuhan masyarakat Jabodetabek akan moda transportasi yang menjamin ketepatan waktu perjalanan, terutama di tengah kepadatan lalu lintas perkotaan yang kerap menjadi tantangan.
Di Yogyakarta, KA Bandara YIA berhasil melayani 920.898 pelanggan, terdiri dari 619.498 pelanggan KA Bandara YIA Reguler dan 301.400 pelanggan KA YIA Xpress. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2025, menggarisbawahi peran penting akses transportasi terintegrasi dalam mendukung sektor pariwisata dan mobilitas masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya.
Sumatra Utara juga mencatat peningkatan konektivitas melalui KA Srilelawangsa yang menghubungkan Medan dengan Kualanamu dan Binjai. Layanan ini melayani 1.414.031 pelanggan pada Januari-April 2026, menjadi penghubung vital antara kawasan perkotaan Medan, wilayah penyangga, dan Bandara Kualanamu.
Di Sumatra Barat, KA Minangkabau Ekspres melayani 74.004 pelanggan dengan rute yang efisien dari Pulau Aie hingga Bandara Internasional Minangkabau, menawarkan waktu tempuh sekitar 45-50 menit. Layanan ini memberikan akses transportasi yang lebih efisien, terjangkau, dan terhubung langsung dengan pusat Kota Padang bagi masyarakat dan wisatawan.
Penguatan konektivitas berbasis rel juga terasa di Solo dengan KA Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) yang kini diperpanjang hingga Madiun. Perpanjangan rute ini membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dari Solo Raya, Sragen, Ngawi, Magetan, hingga Madiun untuk menuju bandara tanpa bergantung sepenuhnya pada transportasi darat. "Selain mempermudah perjalanan masyarakat, konektivitas tersebut juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan pariwisata antarwilayah yang semakin terhubung," tutup Anne.











