Harga Telur Anjlok di Peternak, Ada Surplus Produksi dan Peran Tengkulak

Budi Santoso

Harga Telur Anjlok di Peternak, Ada Surplus Produksi dan Peran Tengkulak

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat harga telur di tingkat peternak anjlok hingga Rp 22.500 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kilogram. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa surplus produksi telur menjadi faktor utama penurunan harga ini. Proyeksi produksi telur nasional pada tahun 2026 mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 6 juta ton, menyisakan surplus sekitar 800 ribu ton atau 13% dari kebutuhan.

Agung menilai surplus 13% sebenarnya masih dapat dikendalikan, namun ia menyoroti fenomena permainan harga di lapangan yang dilakukan oleh sebagian peternak. Karena telur merupakan komoditas yang terus diproduksi setiap hari, stoknya terus bertambah. Hal ini mendorong beberapa peternak untuk menjual telur dengan harga rendah demi menghindari kerugian akibat penumpukan stok. "Harga ini dibentuk oleh mekanisme pasar," ujar Agung. "Artinya 98% peternak, petelurnya rakyat dan di situlah letak dari harga itu terbentuk."

Fenomena harga telur yang anjlok terjadi di daerah sentra produksi utama seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Harga rata-rata nasional telur di tingkat peternak tercatat sebesar Rp 24.500 per kilogram. Melalui konsolidasi dengan asosiasi peternak dan koperasi, Kementan berupaya agar harga telur di tingkat peternak dapat mencapai HAP Rp 26.500 per kilogram. "Oleh karena itu, maka tadi sudah disepakati juga oleh teman-teman asosiasi, teman-teman koperasi, dan pelaku untuk bersama-sama menjaga agar harga ini menuju pada harga acuan di tingkat produsen atau on-farm sesuai dengan harga yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala Bapanas yaitu di angka 26.500 per kilogram," tambah Agung.

Baca Juga :  Kadin China Keluhkan Kebijakan Investasi RI ke Prabowo

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menambahkan bahwa anjloknya harga telur di tingkat peternak tidak lepas dari peran middleman atau tengkulak. "Jadi harga ini, harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middleman," ujar Herry. Ia menjelaskan bahwa terkadang peternak yang membutuhkan uang terpaksa menjual telur dengan harga murah. Herry juga mengkhawatirkan sensitivitas harga telur dan ayam terhadap isu-isu yang beredar.

Herry telah meminta bantuan kepada pemerintah, termasuk Satgas Pangan, untuk menindak middleman yang dianggap mempermainkan harga. Ia menyoroti adanya selisih harga yang signifikan antara harga di tingkat peternak dengan harga konsumen. "Ini harga nggak wajar. Kalian tahu tadi harga berapa dibilang? Rp21.000, kalian beli telur berapa? Rp29.000-Rp30.000 per kg, siapa yang menikmati Rp8.000 itu? Itu yang saya bilang, harga sekarang ini bukan harga asli," tegasnya. Kondisi ini sangat merugikan peternak, mengingat biaya produksi telur berkisar Rp 24.000 per kilogram, sehingga mereka mengalami kerugian.

Also Read

Tinggalkan komentar